Dokter Di Indonesia bisa resepkan obat herbal kepada sang pasien. Namun peruntukannya masih untuk obat pelengkap bukan obat utama. Saat ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan mengembangkan pelatihan bagi penggunaan obat tradisional oleh dokter.

“Dokter yang ingin meresepkan obat herbal harus mengikuti pelatihan selama 120 jam, untuk tahap awal 50 jam dan dokter yang lulus pelatihan ini yang boleh menggunakan jamu sebagai obat,” kata Ketua IDI Prijo Sidipratomo ketika ditemui di Konferensi Obat Tradisional ASEAN ke-3 di Solo seperti diberitakan oleh Antara.

Para dokter yang telah mengikuti pelatihan itu juga harus terdaftar di Dewan Kedokteran untuk memastikan dokter dan masyarakat terlindungi secara hukum. “Kalau dokter ingin gunakan obat tradisional, dokter harus diadvokasi terlebih dahulu. Kita sudah menyusun materi training dengan Balitbang,” ujar dr Prijo.

Penelitian lebih lanjut disebutnya dapat digunakan untuk mendorong obat tradisional menggantikan obat modern, setelah dapat dipastikan keampuhan dan kualitasnya melalui standarisasi.Karena sampai saat ini ada beberapa jamu yang belum dapat dipertanggungjawabkan, bahkan beberapa diantaranya membayakan tubuh.

Sementara itu, Konferensi Pengobatan Tradisional ASEAN ke-3 yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah sejak 31 Oktober-2 November itu membahas mengenai integrasi pengobatan tradisional kedalam sistem pengobatan dengan memperhatikan keampuhan, ketersediaan dan kualitas dari obat tradisional.

4Life Transfer Factor® GluCoach®

Posted: 4 November 2011 in PRODUK


Description :
Targeted Transfer Factor® support for the endocrine and metabolic systems
Primary Support: Body Glucose Balance Secondary Support: Immune, Antioxidant

Product Feature :
• Targets the superior immune-enhancing benefits of transfer factors and offers direct support for the metabolic and endocrine systems, including a normal inflammatory response
• Includes minerals, herbs, and phytonutrients to support healthy hormone production and glucose levels, and promote pancreatic health.

Product Details :
4Life Transfer Factor GluCoach is formulated to promote healthy glucose levels in the body and provide support to both the metabolic and endocrine systems. Enriched with Targeted Transfer Factor and a proprietary blend of healthful ingredients, it supports your body’s ability to metabolize glucose, which helps maintain healthy sugar levels.

Testimoni :
“I’ve been using 4Life Transfer Factor GluCoach for three years and I’m pleased with the support it provides for my healthy glucose levels. I’m grateful to 4Life for such a wonderful product.
Maritza Guzman, 4Life distributor.”
Connecticut, USA

4Life Transfer Factor® Cardio™

Posted: 30 Oktober 2011 in PRODUK

Description :
A heart-healthy combo of Targeted Transfer Factor® and over 26 vitamins, minerals, and antioxidants
Primary Support: Cardiovascular Secondary Support: Immune, Antioxidant

Product Feature :
• Features Targeted Transfer Factor® to educate immune cells and provide support for a healthy heart and proper cardiovascular function
• Supports healthy blood pressure, cholesterol levels, homocysteine levels, and inflammation levels
• Contains a proprietary blend that includes coenzyme Q-10, ginkgo biloba, garlic, red rice yeast extract, and ginger oil

Product Details :
4Life Transfer Factor Cardio features 4Life’s exclusive Targeted Transfer Factor technology and other ingredients specifically developed to maintain and support a healthy cardiovascular system. Along with the immune-enhancing benefits of 4Life Transfer Factor®, this combination of heart-healthy nutrients include coenzyme Q-10, ginkgo biloba, garlic, red rice yeast extract, and others to promote healthy blood pressure, cholesterol, homocysteine, and inflammation levels.

In the first critical days of life for humans and other mammals, a mother passes on vital immune knowledge through the first meal—colostrum—which contains transfer factor molecules. As nature’s first supplement, these memory molecules transfer immune experience to educate and prepare the newborn’s immune system to function in the world.

While vitamins and herbs provide nutrition to the immune system, transfer factors provide information so immune cells can do their jobs faster and more effectively. Research over the years has revealed that transfer factor molecules are abundant in nature. Through a patented filtration process, 4Life extracts transfer factors from cow colostrum and chicken egg yolks for the foundation of its Transferceutical™ products.

People of all ages can benefit from nature’s first supplement by borrowing immune memory from the strong, heroic immune systems of these two animals.

Transfer factors:
• Help immune cells quickly recognize invading germs or other potential threats
• Help the immune system respond more efficiently after an invader has been identified
• Lend a hand in remembering how to tackle each problem your immune system encounters, so your body knows exactly what to do the next time

4Life has gone further in promoting and researching the benefits of transfer factors than anyone else. This scientific innovation will undoubtedly continue.

TIPS SEHAT BERIBADAH HAJI

Posted: 11 September 2011 in ARTIKEL KESEHATAN

Ibadah haji merupakan ibadah fisik, oleh karena itu dibutuhkan fisik yang sehat pula agar kita bisa menjalankan ibadah haji secara sempurna. Hampir bisa dipastikan seluruh jamaah haji akan menurun kondisi stamina fisiknya sebab selama prosesi ibadah haji tenaga kita akan terkuras, kurang tidur dan melelahkan.

Jika kondisi tubuh sudah menurun dan daya tahan tubuh akan menurun pula, sudah barang tentu penyakit akan mudah masuk menyerang kita. Hal ini bisa kita lihat ketika jamaah haji pulang dari Mina, banyak jamaah haji yang jatuh sakit, mulai dari penyakit yang ringan seperti batuk, pilek, flu disertai demam tinggi bahkan ada yang harus dirujuk ke Rumah Sakit karena tidak bisa ditangani oleh Dokter Kloter.

Di bawah ini ada beberapa kiat untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji :

1. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, di samping melakukan manasik haji, lakukan juga latihan fisik, misalnya senam haji. Tujuannya agar tubuh terbiasa dengan aktivitas fisik yang berat saat berhaji.

2. Periksa kesehatan secara menyeluruh sebelum berangkat ke Tanah Suci.

3. Persiapkan pakaian pelindung diri, seperti baju hangat untuk melawan suhu dingin, masker untuk melindungi saluran napas dari debu, dan kacamata hitam untuk mengurangi paparan sinar matahari.

4. Sekalipun tidak berselera makan, tetap konsumsilah makanan dengan cukup dan gizi seimbang. Aktivitas fisik yang berat membutuhkan banyak kalori. Perbanyak makanan yang mengadung vitamin seperti buah dan sayuran.

5. Untuk menghindari dehidrasi, minumlah dalam jumlah cukup, baik air mineral biasa, air zamzam, maupun susu. Kelembapan udara yang rendah ditambah kondisi panas maupun dingin di Arab Saudi berisiko membuat jamaah mengalami dehidrasi tanpa disadari.

6. Hindari melakukan hal-hal yang tidak perlu dan menguras energi karena tujuan ke Tanah Suci adalah untuk beribadah.

7. Selama ibadah haji, jaga kebersihan diri. Sebisa mungkin gunakan masker, terutama saat berada di tempat ramai, untuk mengurangi kemungkinan tertular kuman lewat pernapasan.

8. Bekali diri dengan obat-obatan yang sekiranya akan diperlukan di Tanah Suci. Pilihlah obat yang halal dengan sertifikat dari MUI, praktis dibawa, tidak membuat kantuk, dan aman.

9. Jika mengalami gangguan kesehatan saat menunaikan ibadah, segera berobat ke dokter kloter.

Selain itu juga perlu kiranya para calon jemaah haji menambahkan suplemen 4life advanced plus, karena akan meningkatkan daya tahan tubuh sampai dengan 473 %.

Hubungi saya di 085753102870 atau e mail yusartea@yahoo.co.id untuk informasi lengkapnya.

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI, SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR…

Sebuah penelitian baru tentang sel kekebalan yang berjuang melawan infeksi virus kronis menunjukkan bahwa sel, yang disebut sel-T, menjadi kelelahan yang mengakibatkan prubahan besar yang membuat sel tersebut semakin kurang efektif setelah beberapa waktu.

Walaupun percobaannya dilakukan pada tikus, hilangya sel-T yang bermasalah juga ditemukan pada manusia yang terinfeksi dengan HIV, hepatitis B, dan hepatitis C, dan juga beberapa kanker, misalnya melanoma. Laporan tentang penelitian diterbitkan dalam jurnal Immunity terbaru, yang diterbitkan dalam versi internet pada 18 Oktober 2007.

�“Kita tahu bahwa sel-T yang menanggapi infeksi kronis berkembang menjadi semakin rentan dalam banyak fungsinya,” dikatakan E. John Wherry, Ph.D., lektor dari Program Imunologi di Institut Wistar dan pemimpin penulis penelitian Immunity. “Secara sederhana, sel-T menjadi kelelahan sejalan dengan waktu. Yang ingin kami teliti dalam penelitian ini adalah tentang masalah tertentu yang terjadi pada sel ini apakah keadaanya yang sudah melemah dapat dipulihkan.”

Untuk memulihkan sel-T yang kelelahan dibutuhkan Transfer Factor, karena Transfer Factor dapat meningkatkan sel-T. Transfer Factor juga dapat memperbaiki kerusakan sistem imun yang terjadi akibat infeksi kronis

Bukti Penelitian Transfer Factor 4Life, 4Life Indonesia, 4Life Transfer Factor, Transfer Factor
by Steven J. Bock, M.D.

Reprinted with Permission from the International Journal of Integrative Medicine

Sistem imun merupakan hal yang rumit sekaligus menakjubkan. Beruntunglah, Sang Pencipta memberikan bayi suatu pertolongan. Kita sadar betapa pentingnya pemberian ASI (Air Susu Ibu) bagi kemampuan sistem imun. Dalam kondisi dunia yang semakin bahaya, kita diserang oleh berbagai agen penyebab penyakit (patogen). Sistem imun kita pun mengalami perubahan tidak menentu. Transfer Factor (TF), faktor imun utama pada kolostrum, dapat menjadi senjata utama tubuh kita menangkal pathogen. Transfer Factor melatih dan mendidik secara terus menerus sistem imun.

H.S. Lawrence menemukan transfer factor pada tahun 1949, ketika ia berhadapan dengan masalah penyakit tuberculosis (TBC). Apa yang ia coba temukan adalah keberadaan komponen darah yang dapat membawa sensitivitas tubercular dari seseorang yang telah sembuh dari TBC ke orang yang belum terkena. Transfusi darah secara keseluruhan dapat dilakukan, tapi hanya pada orang yang mempunyai golongan darah sama. Lawrence pada awalnya memisahkan sel-sel imun darah, sel limfosit atau sel darah putih, dari seluruh komponen darah. Kemudian ia memecah limfosit menjadi beberapa ukuran fraksi. Apa yang ia temukan adalah molekul fraksi terkecil yang dapat mentransfer sensitivitas tuberculin pada pasien sehat lain. Molekul inilah yang ia namakan transfer factor.

Transfer factors adalah molekul kecil berukuran 3,500-6,000 kDa berat molekul, terdiri dari oligoribonucleotides yang melekat pada molekul peptida. Dahulu, molekul ini hanya didapat dari proses dialisa (pemecahan) sel darah putih, tapi sekarang dapat disarikan dari bovine colostrum. Mereka diproduksi oleh sel limfosit-T dan dapat mentransfer kemampuan untuk mengenal pathogen kepada sel yang belum pernah kontak dengan pathogen tersebut (fungsi memori). Mereka juga memperkuat kemampuan sistem imun untuk bereaksi (fungsi inducer/perangsang) terhadap pathogen. Transfer factor memungkinkan sel-T lebih mengenal terhadap pathogen. Di sisi lain, Transfer Factor bisa bertindak sebagai produk gen yang membantu sel-T lain menyerang. (1)

Fungsi perangsangan/inducer transfer factor menghubungkan sel-sel imun berikatan dengan antigen, sehingga meningkatkan reaksi stimulus terhadap antigen. Fungsi supresi menahan reaksi berlebihan sel-T(2) dan memberi tanda pada sel untuk menurunkan respon imunnya. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya alergi atau kondisi autoimmune.

Peranan sel TH1, TH2
Sebelum kita mengerti kegunaan/fungsi transfer factor, sangat penting bila kita mengerti dulu tentang paradigma sel TH1 helper/TH2 helper. Sel limfosit T-helper berkembang menjadi 2 jenis sel. Sel TH1, mengatur imunitas seluler (cell-mediated immune), memproduksi: cytokines: IL-2, IFN-gamma, and TNF-alpha. Sel TH2 cells, mengatur imunitas humoral, atau produksi antibody, memproduksi: IL-4, IL-5, IL-6, IL-10, dan IL-13. Jika anda telah mengerti dan familiar dengan keadaan fenotip dominan TH1/TH2 pada seseorang, anda dapat lebih mudah mengidentifikasi kondisi tubuh atau kondisi penyakit pada orang tersebut dan membuat terapi yang tepat.

Respon sel imun seluler atau sel-TH1 helper sangat penting terhadap kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap berbagai serangan virus, jamur, parasit, kanker, dan organisme intraselular. Imunitas seluler dapat dites dengan:

Skin tests-delayed hypersensitivity skin, Response to non-specific mitogens, NK cell level; phytohemagglutinin (PHA), NK cell activity; IL1 assay; Response to specific mitogens, IL2 and interferon gamma, and other, diptheria, tetanus, or candida; cytokinese, Response to alloantigens-mixed, lymphocyte reaction

Jika seseorang berada pada kondisi dominant-TH2, dimana terjadi penurunan imunitas selular dan penguatan imunitas humoral, maka kondisi yang akan terjadi adalah:

Allergies, Pertussis vaccination, Chronic sinusitis, Malaria, Atopic eczema, Helminth infection, Asthma, Hepatitis C, Systemic autoimmune condition, Chronic glardlasis, lupus, Hypercortisolism, induced autoimmunity, Chronic candidiasis, Vacctination-induced state, Cancer, Certain cases of autism, Viral infections,Hyperinsulinism, Ulcerative colitis

A. Pada kondisi dominant-TH1, kondisi yang timbul adalah:
Diabetes type 1, Sjögren’s syndrome, Multiple sclerosis, Psoriasis, Rheumatoid arthritis, Sarcoidosis, Uveitis, Chronic Lyme disease, Crohn’s disease, Pylori infections, Hashimoto’s disease,E. histolytica

Pada kondisi hamil, terjadi keadaan dominant-TH2. Hal ini sangat baik untuk kondisi kehamilan. Bila berada pada kondisi dominan-TH1, atau respon imunitas seluler lebih dominant, akan menginduksi terjadinya penolakan terhadap fetus dan plasenta. (3) Karena reaksinya yang menstimulasi respon TH1 dalam banyak kasus, transfer factor sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan normal. Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan rheumatoid arthritis, yang terjadi pada kondisi dominant-TH1, akan membaik selama kehamilan. (4)

Kondisi dominant-TH1 secara umum tidak dapat ditolong oleh transfer factor. Namun beberapa penyakit seperti rheumatoid arhtritis, multiple sclerosis, and Crohn’s disease, dapat timbul sebagai akibat adanya infeksi atau reaksi terhadap patogen. Jika respon TH1 tidak cukup adekuat untuk mendorong sistem imun menyerang mikroba, maka transfer factor akan meningkatkan proses penyerangan tersebut dan sangat efektif pada kasus-kasus tertentu. Secara klinis hal ini dapat terjadi pada kasus-kasus seperti: Crohn’s disease, multiple sclerosis, and chronic Lyme disease, dimana terjadi kondisi dominant-TH1.

Transfer factor dapat meningkatkan fungsi imunitas seluler atau mendorong terjadinya kondisi TH2 menjadi TH1. Hal ini sangat berguna pada keadaan dominan-TH2. Secara normal, pada saat terpapar bakteri dan infeksi pada masa kanak-kanak, yang ada pada kondisi dominant-TH2, maka kondisi TH1 akan ditingkatkan sehingga kemudian terjadi keseimbangan TH1/TH2. (5) Jika kondisi dominant-TH2 tetap terjadi, akan mengakibatkan terjadinya atopic, atau keadaan alergi. Kita melihat hal ini dengan semakin banyaknya tingkat kejadian allergic symptoms, postnasal drip, asthma, dsb.

Di sisi lain akibat kondisi dominant-TH2 adalah penurunan TH1 atau imunitas seluler. Sehingga kita melihat makin banyak terjadinya kasus infeksi virus, infeksi jamur, dan kanker. Vaksinasi diberikan untuk mendorong terciptanya kondisi TH2. Untuk membantu mengatasi masalah ini, kita dapat menggunakan Transfer factor sebelum dan sesudah imunisasi.

Cancer, Cell-mediated Immunity (TH1), and Transfer Factor

Karena kanker berhubungan dengan kondisi defisiensi/penurunan kondisi TH1, transfer factor harus dipertimbangkan pada terapi peningkatan imun pasien kanker. Faktor-faktor yang dapat menurunkan imunitas seluler/TH1 dan terjadi peningkatan dominant-TH2 adalah: umur, perawatan kanker yang sitotoksik, stress setelah pembedahan, penyakit metastatis, dll. (6) Cell-mediated immunity (CMI) dapat menjadi predictor tingkat morbiditas dan mortalitas pada usia di atas 60 tahun. Pada pasien dengan liver metastases atau colon rectal carcinoma, CMI adalah faktor prediksi seseorang dapat bertahan atau tidak. (7) Penurunan imunitas seluler seiring dengan peningkatan sirkulasi imun kompleks, mengindikasikan buruknya prognosis pada pasien kanker. (8) Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien dengan kanker kulit multiple terdapat kerusakan/penurunan CMI. (9) Pada penelitian pasien kanker rahim, yang dibandingkan dengan grup control, mereka yang menjalani kemoterapi terjadi penurunan pada parameter imunnya (seperti, penurunan cell-mediated immunity), sementara grup yang menerima immunotherapy (dalam hal ini, thymopeptin) parameter imunnya berada dalam batas normal.

Penurunan imunitas pada pasien kanker, menyebabkan mereka mudah terkena infeksi oleh berbagai virus, seperti herpes zoster and cytomegalovirus (CMV). Infeksi terjadi sebagai akibat dari terapi cytotoxic therapy dan defisiensi imunitas seluler / TH1. (12) Kondisi dominant-TH1, ditandai dengan peningkatan jumlah IL-2 dan IFN-gamma, bertindak sebagai stimulator imun dan membatasi pertumbuhan tumor. Sebaliknya, kondisi dominant-TH2, ditandai dengan IL-4 and IL-10 cytokines, bertindak sebagai penghambat imun dan menstimulasi pertumbuhan tumor. Perkembangan HIV menjadi infeksi HHV8 disertai Kaposi sarcoma, ulcerative colitis, berkembangnya kanker kolon, obesitas, dan peningkatan kejadian terjadinya karsinoma, semuanya adalah berhubungan dengan peningkatan kondisi TH2 (dan penurunan kondisi TH1). Studi menunjukkan bahwa pergeseran kondisi menjadi dominant-TH2 terjadi sebelum transformasi kanker. Ketika sel kanker tumbuh, sel menjadi semakin hypoxic. Hal ini menyebabkan imunitas seluler lebih tertekan, dan terjadi penurunan daya tahan. Studi menunjukkan bahwa respon imun TH2 berhubungan dengan kondisi proangiogenesis, yang memfasilitasi pertumbuhan kanker. (13)

Transfer factor menunjukkan kemampuan memperbaiki imunitas seluler pada pasien yang mengalami penurunan imunitas. (14) Karena Transfer Factor dapat meningkatkan imunitas seluler atau TH1, maka ia sangat menolong pada kondisi seperti ini. Sebagai contoh, dengan memerintahkan cell-mediated immunity melawan pengganggu dan antigen spesifik pada jaringan prostate, Transfer Factor sangat efektif pada perawatan Kanker prostate yang sudah metastasis pada stadium D3 hormone-unresponsive. Follow-up menunjukkan peningkatan rata-rata hidup pada 50 pasien, dengan penyembuhan total pada 2 pasien, kemungkinan sembuh pada 6 pasien, dan tidak terjadinya metastasis pada semua pasien. (14,15) Penggunaan Transfer factor menunjukkan perbaikan pertahanan sebagai suatu hal penting untuk menghentikan perkembangan sel kanker.

Sebelum transfer factor dapat diekstrak dari kolostrum, ia hanya dapat diperoleh dari hasil dialisa leukosit (DLE=dialyzed leukocyte extract). Pada literature dikatakan bahwa DLE antigen tertentu telah digunakan untuk berbagai kondisi infeksi virus, kondisi autoimun, dan kanker tertentu. Telah ditemukan bahwa DLE memfasilitasi imun untuk menjadi antigen tumor. It has been found that DLE facilitated immunity to tumor-associated antigen. Fudenburg menunjukkan bahwa transfer factor dari donor terpilih dapat meningkatkan respon awal sel pada pasien dengan osteogenik sarcoma.

Salah satu faktor yang melemahkan sel imun pertahanan awal tubuh kita adalah lingkungan (seperti bahan kimia atau polusi logam berat). Penelitian telah menunjukkan bahwa pemaparan dalam waktu lama oleh polychlorinated hydrocarbons dapat menekan proses fagositosis, penurunan aktivitas NK sel, dan penurunan respon limfosit pada tikus. (17) berakibat pada penurunan pengaturan sistem imun, dengan respon TH2 yang lebih dominant, terjadi bila terpapar dengan merkuri. Sehingga respon TH1 tidak membaik, meningkatkan kasus terjadinya kanker hingga penyakit autoimun. (18)

Viral Infections

Dalam pengobatan dewasa ini, kita melihat meningkatnya permasalahan dengan infeksi virus, seperti otitis media, cacar, infeksi kronis, Epstein-Barr virus (EBV). CMV acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), hepatitis, dan West Nile virus. Kita menggunakan berbagai perawatan beragam, mulai dari interferon hingga azidothymidine (AZT), ribavirin, and relenza. Walaupun dengan semua senjata imun teknologi tinggi telah digunakan, kita masih sering kalah perang dengan virus-virus tersebut.

Pada terapi infeksi virus, transfer factor menyediakan modal dasar yang bekerja pada tingkat yang paling dasar dan utama. Transfer factor dapat menginduce interferon pada pasien dengan infeksi virus. (19)

Infeksi virus mengindikasikan peningkatan kondisi TH2 dan penurunan kondisi TH1. Hal yang sama juga terjadi pada infeksi jamur, parasit, dan penyakit kanker. Infeksi bakteri juga berhubungan dengan penurunan kondisi dominant-TH2.

Dengan merangsang TH1, transfer factor sangat menguntungkan pada perawatan pasien hepatitis. Pada hepatitis C, kondisi dominant-TH2 berperan penting dalam perkembangan hepatitis kronis. Perangsangan TH1 menghasilkan pembersihan partikel-partikel virus dan penyembuhan hepatitis. (20,21) Studi menunjukkan pasien cacar dan komplikasinya telah sukses berhasil disembuhkan dengan non-specific transfer factor. Gejala dapat dihilangkan dalam waktu 24 jam tanpa efek samping. (22)

Satu teori mengatakan bahwa satu mekanisme yang terlibat pada kelainan autisme adalah ketidakseimbangan imun terhadap pole imunitas TH2, sebagai hasil dari vaksinasi (measles, mumps, and rubella). Akhir-akhir ini, dilakukan studi untuk menguji coba efektivitas transfer factor sebagai modulator imun pada kelainan autisme ini.

Telah diketahui bahwa virus sangat berperan pada etiologi Otitis media akut (AOM = acute otitis media) pada anak-anak. Pada studi tentang AOM, 75% anak-anak positif menderita virus seperti respiratory syncytial virus (RSV), para influenza, and influenza, dan 48% memiliki virus penyebab pada efusi telinga tengah. (23) Virus-virus ini bekerja sebagai pendahulu dari infeksi bakteri spesifik AOM. (24) Terjadi hasil yang sangat bagus pada perawatan awal dan pencegahan otitis media dengan menggunakan transfer factor.

Beberapa persen penderita asma memiliki gejala infeksi pernafasan, kebanyakan akibat dari infeksi virus. Studi penggunaan transfer factor pada pasien asma menunjukkan bahwa sekitar 50% pasien dapat menghentikan penggunaan steroidnya, dan separuhnya lagi dapat menurunkan dosis penggunaan steroidnya. Secara umum, terjadi penurunan biaya rumah sakit. Penggunaan transfer factor memperbaiki imunitas selular. Tidak terjadi efek samping dan reaksi alergi. (25)

Dalam kasus-kasus alergi, Kahn melaporkan peningkatan kejadian infeksi, seperti para influenza virus, syncytial virus, adenovirus, etc., sebagai faktor predisposisi pada anak-anak penderita asma. Ditemukan juga bahwa anak dengan asma punya kecenderungan cepat terkena infeksi. (26) 12 dari 15 anak mengalami ketidaksempurnaan pada imunitas sel-T, walau beberapa diantaranya tidaklah parah. (27) Hal ini menjadi perhatian bahwa fungsi sel mediated imun yang tidak sempurna menjadi faktor pada penyakit-penyakit virus.

Telah diteliti bahwa wanita dengan infeksi human papilloma virus (HPV) memiliki ketidaksempurnaan mekanisme proteksi dari cell-mediated immunity. (28) Keadaan perubahan kondisi dominant-TH1 ke TH2 dalam pola cytokine berhubungan dengan semakin parahnya infeksi HPV. Peningkatan masalah gynecological ditemukan sebagai penyebab kedua pada infeksi HPV. Potensi transfer factor pada infeksi HPV perlu digali lebih lanjut.

Chronic Infection

Transfer Factor juga dapat memperbaiki kerusakan sistem imun yang terjadi akibat infeksi kronis. Berapa banyak praktisi yang melihat skenario sbb: seorang anak datang dengan bronchitis atau tonsilitis yang berulang (rekuren), yang ia derita sejak bayi, sehingga perlu terapi antibiotik secara berkala/berulang kali. Hal ini akan menimbulkan gejala kandidiasis kronik. Riwayat eksim kronis atau alergi juga sering ditemukan. Tes imunologi atau tes kulit menunjukkan kekurangan pada cell-mediated immunity, tapi bukan kerusakan. Grohn melaporkan bahwa pada beberapa kasus dan memperoleh hasil bahwa perawatan berhasil sukses dengan transfer factor. (29) Di sini kita dapat melihat bahwa transfer factor sangat menolong untuk mengatasi kondisi dominant-TH2: alergi, kandidiasis kronis, dan eksim.

Transfer factor dapat menghilangkan kasus-kasus yang rekuren, non-bacterial cystitis (NBRC), kala perawatan dengan antibiotik dan obat-obatan non steroid tidak berhasil. (30) Berbagai studi menunjukkan hasil positif dengan transfer factor pada chronic mucocutaneous candidiasis. (31)

In Lyme disease, cytotoxic production of a TH2 phenotype is correlated to resistance, while that of a TH1 phenotype is correlated to susceptibility. (32) This suggests that certain people have an immune glitch that makes their immune system prone to either the TH1 or TH2 pattern and therefore more susceptible to different diseases. This may be precisely where transfer factor having immune-modulating effects, can be helpful. For instance, in Lyme patients we usually see a TH-1 dominated pattern, but transfer factor works very well for certain subsets of Lyme patiens.

Chronic Fatigue

Transfer factor has been used in chronic fatigue immune dysfunction syndrome, especially if a viral etiology can be found. It has had varied success, although one may need to use increased dosages. If polyvalent transfer factor is not successful, the use of antigen- (or disease-) specific transfer factor may need to be explored. (33)

In elderly patients with cellular immunodeficiency and chronic fatigue syndrome, age-related decrease in recovery occurred after treatment with transfer factor. (34) Success with transfer factor in chronic fatigue syndrome secondary to human herpes virus 6 (HHV6), genital or labial herpes, and recurrent ocular herpes has been well-documented. (35-37) A study on the effect of transfer factor on the course of multiple sclerosis showed that it retarded the progression of the disease in mild to moderate cases. (38)

The Treatment

Terapi dengan transfer factor bergantung pada dosis yang digunakan. Pada infeksi virus, biasanya dimulai dengan 3 kapsul 3 kali perhari. Dosis kemudian dapat diturunkan menjadi 1 kapsul 3 kali perhari. Dosis ini dipertahankan pada kasus-kasus infeksi virus kronis, infeksi herpes kronis, chronic fatigue secondary to CMV or EBV, chronic colds, dan kasus resistensi. Jika ada infeksi virus berlebihan, dosis dapat ditingkatkan menjadi 3 kapsul 3 kali perhari. Biasanya, pasien melaporkan penurunan kecenderungan terhadap cold, penurunan gejala pada hidung (Seperti postnasal drip and chronic sinus symptoms). Pada kondisi alergi, dewasa mulai dengan 2 kapsul 3 kali perhari, meningkat menjadi 3 kapsul 3 kali perhari jika gejala bertambah buruk. Dosis kemudian diturunkan pada dosis maintenance seiring dengan penurunan gejala.

Pada kasus chronic fatigue syndrome, pasien mulai dengan 3 kapsul 3 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan tergantung respon orang tersebut. Dosis 4-5 kapsul 3 kali sehari dapat diterapkan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan/atau radioterapi, yang mengalami penurunan fungsi imun seluler.

Tes-tes fungsi imun dapat dilakukan, terutama tes penentuan CMI, dapat dilakukan untuk menentukan dosis. Dapat juga untuk menentukan jumlah cytokine, menentukan IL-2, IL-4, IFN-U, IL-10, dsb. Peningkatan jumlah IL-2 dan interferon gamma akan mengindikasikan kondisi predominant-TH1, sementara peningkatan jumlah IL-4 and IL-10 akan mengindikasikan kondisi dominant-TH2. Aktivitas sel NK, yang biasanya turun pada kasus-kasus kanker, akan meningkat dengan penggunaan transfer factor, dan dapat diukur secara periodik.

Pada kasus anak-anak yang sering mengalami serangan virus, asthma, allergic chronic sinus symptoms, and chronic candida symptoms, dosis awal sebagai berikut:

Under 1 year : ½ capsule a day (200mg of transfer factor per capsule).

1-5 years : ½ capsule a day

6-12 years : 1 capsule 2 times a day

Over 12 years : 1 capsule 3 times a day

Dosis di atas adalah dosis awal; dosis dapat dinaikkan bertahap tergantung tingkat keparahan penyakit.
Biasanya, pada saat pasien memulai mengkonsumsi transfer factor, dapat merasakan gejala seperti flu (flu-like symptoms), mual, atau gejala pada saluran pencernaan. Karena transfer factor adalah peptide kecil dan tidak mengandung protein susu, reaksi alergi sangat jarang terjadi. Gejala-gejala tersebut biasanya diklasifikasikan mekanisme Jared Herxheime, dan kemungkinan timbul sebagai reaksi awal transfer factor pada usus atau pathogen sistemik. Bila pasien diinformasikan tentang gejala yang mungkin dapat timbul, maka mereka akan terus melanjutkan perawatan.

Transfer Factor dan Terapi Alternatif Lainnya

Pada kasus-kasus komplikasi imun atau pada perawatan kanker, sangat bermanfaat untuk menambah suplemen jenis herbal dan nutrisi lain untuk meningkatkan efek stimulasi imun. Faktor-faktor tambahan ini akan mempertajam kenaikan aktifitas sel NK, meningkatkan fagositosis, meningkatkan pematangan sel-T, meningkatkan imun secara keseluruhan, dan mempercepat reaksi beruntun penghancuran toxin. Bahan-bahan yang dapat memperkuat Transfer Factor termasuk di antaranya adalah hymic protein factors, herbal China (seperti astragalus, cordyceps, shiitake, maitake, dan reishi), inositol hexaphosphate, melatonin, 1-3 beta glucan, glutathione, dan antioksidan lainnya. Vitamins A, D, dan B6 menaikkan pola TH2, sementara vitamins E, C, dan folate menaikkan produksi TH1. (39) Vitamin B12 menekan respon TH1. (40) Sebagai tambahan, akupuntur ditemukan juga dapat meningkatkan jumlah perimeter imun CMI CMI. Levels of CD 3+, CD 4+, CD 4+/CD 8+, dan beta-endorphins ditemukan meningkat pada penderita tumor ganas setelah perawatan dengan akupuntur. (41)

Thymic factors menyebabkan pematangan sel-T dan meningkatkan cell-mediated immunity. Namun transfer factor jauh lebih efektif pada post-thymic cells. Bagaimanapun kegunaannya, thymic factors dan transfer factor direkomendasikan untuk terapi immunodeficiency. (42,43) Studi baru-baru ini oleh Dr. D. See menunjukkan bahwa transfer factor meningkatkan aktivitas sitotoksik sel NK. Efek transfer factor lebih besar daripada bahan-bahan lain yang terkenal dapat meningkatkan sel NK, seperti echinacea, acemannan, 1-3 beta glucan, IP-6, dan certain Chinese mushrooms. Kolostrum memiliki ¼ potensi. Parameter imun lainnya, seperti fungsi sel-T dan tes imunitas seluler, tidak dilakukan pada studi ini. (44)

Kesimpulan
Fungsi sistem imun adalah pusat/jantung dari meningkatnya infeksi dan kelainan imunologi yang ditemukan pada praktek klinik. Melalui bahan unik dan aktifitasnya, transfer factor sangat berguna, relatif tidak ada risiko, dan terapi yang paling penting untuk perawatan dalam melemahnya kondisi cell-mediated atau TH1. Pikirkan dari sisi potensial kegunaannya pada penyakit-penyakit seperti cancer, chronic fatigue, viral infections, allergies, fungal infections, chronic infections, and autoimmune diseases.

IGF-1

Does any of the 4Life TF products contain IGF-1?
“Insuline-like growth factor-I (IGF-1) adalah hormon pertumbuhan dengan karakteristik mirip insulin dan growth hormone. Fungsinya untuk menstimulasi pertumbuhan sel-sel pada jaringan tubuh. IGF-1 ditemukan pada tubuh manusia dan kolostrum sapi dan manusia. Konsentrasi IGF-1 pada kolostrum beratus kali lipat lebih tinggi daripada yang terdapat pada susu.

Pada bayi yang baru lahir, satu fungsi utama IGF-1 adalah merangsang pertumbuhan gut, memperbaiki fungsi pertahanan. IGF-1 juga dapat merangsang pertumbuhan sel-sel yang tidak dibutuhkan, seperti sel kanker. IGF-1 adalah molekul besar. Pada kolostrum, IGF-1 hampir seluruhnya terikat protein, sehingga menjadikannya molekul yang sangat besar. Proses microfiltration yang telah dipatenkan oleh 4Life untuk mengekstrak Transfer Factors dari kolostrum, tidak memungkinkan molekul sebesar ini melewati membrane filtrasi.

Penelitian terakhir menunjukkann kolostrum sapi akan meningkatkan jumlah serum IGF-1 pada manusia. Faktanya, pemnelitian ini menunjukkan bahwa hampir semua IGF-1 mengalami pemecahan di perut. Sementara penyerapan hanya terjadi dalam jumlah kecil pada bayi baru lahir, hal yang tidak dapat dipastikan jika konsumsi oral IGF-1 dapat diserap pada orang dewasa. Mempertimbangkan fakta ini, kami yakin bahwa kekuatan imun yang diberikan oleh produk Transfer Factor 4Life berasal dari kemampuan transfer factor itu sendiri, bukan dari molekul-molekul penyertanya.

Selanjutnya, mereka penderita kanker tidak perlu khawatir tentang adanya pertumbuhan sel-sel kanker yang tidak diinginkan kala mengkonsumsi produk Transfer Factor 4Life. Sebaliknya, telah banyak orang yang melaporkan bahwa produk Transfer Factor 4Life sangat menolong mereka dalam mensuport sistem imun disaat mereka berperang melawan kanker.”

Menjaga Daya Tahan Tubuh

Posted: 5 September 2011 in ARTIKEL KESEHATAN

Daya tahan tubuh adalah kemampuan fisik untuk menangkal semua jenis kuman,virus,parasit yang akan masuk ke dalam tubuh. Bila daya tahan tubuh baik, tubuh akan selalu sehat, sebaliknya, bila daya tahan tubuh menurun, kuman mudah masuk, sehingga gampang sekali terserang penyakit. Daya tahan tubuh setiap orang berbeda-beda, bahkan pada orang yang samapun untuk waktu yang berbeda daya tahannya berbeda pula. Oleh karena itu kita harus selalu menjaga agar daya tahan tubuh kita tetap terjaga agar terhindar dari serangan penyakit.

Untuk itu anda harus dapat mensiasati dengan :

1.Mengkonsumsi makanan bergizi, Makanan bergizi sangat dibutuhkan tubuh, makanan bergizi adalah makanan yang cukup mengandung unsur karbohidrat, lemak, protein, mineral dan unsur lain / susu. Bila makanan yang dimakan setiap hari tidak bergizi, tubuh akan lemas. Hal itu membuat daya tahan menurun. Sebaliknya, bila makanan yang dimakan selalu bergizi, maka daya tahan tubuh prima, dan tubuh selalu bugar. Karena itu, usahakan salalu makan bergizi, yaitu empat sehat lima sempurna.

2. Istirahat cukup, Rutinitas kerja yang padat membuat seseorang terkadang kurang istirahat. Misalnya saja, berangkat kerja jam 6 pagi, baru tiba di rumah jam 12 malam. Rutinintas kerja seperti itu atau sering begadang hingga larut malam, kurang baik. Salah satu dampak kurang istirahat adalah penurunan daya tahan tubuh. Untuk itu, agar daya tahan tubuh baik, istirahatlah yang cukup. Kebutuhan tidur, orang dalam sehari sekitar 8 jam.

3. Lakukan Olahraga secara teratur, Semua orang tahu manfaat olahraga. Dengan olahraga teratur, fisik kita semakin baik. Jika fisik baik, tentu daya tahan tubuh juga akan baik. Karena itu, lakukan olahraga teratur. Ketika berolahraga lakukan dengan serius hingga bercucuran keringat. Jenis olahraga sesuaikan kamampuan tubuh masing-masing. Misalnya senam, lari, tenis, sepak bola. Idealnya olahraga dilakukan 3 kali dalam seminggu.

4. Hindari pikiran berat, Pikiran berat sangat mempengaruhi psikologis seseorang. Dalam kondisi pikiran yang berat, orang akan malas beraktivitas, nafsu makan menurun, sulit tidur, dan mudah emosi. Kondisi seperti itu, bila terus dibiarkan akan menurunkan daya tahan tubuh. Karena itu, hindari pikiran beras, kalaupun memang ada masalah rumit, segera carikan jalan keluar.

5. Minum vitamin, Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi bagi tubuh, tidak ada salahnya minum vitamin setiap hari. Sekarang ini banyak tersedia vitamin yang telah dikemas sedemikian rupa sehingga praktis dalam penggunaannya. Hanya, jangan salah pilih, pilihlah vitamin yang manfaatnya benar-benar telah teruji.

Dan jangan lupa …..Transfer Factor (TF) adalah Jawaban alam untuk masalah ini. Sebagai imunomodulator TF dapat meningkatkan daya immune kita sampai dengan 437 %.

Kanker masih menempati deretan penyakit mematikan. Berbagai pengobatan kanker masih dilakukan untuk mengatasinya. Salah satu upaya pengobatan yang sedang diupayakan adalah melalui terapi imun (immunotherapy). Cara ini dipakai sebagai alternatif pengobatan konvensional.

“Ada 20 kasus kanker di seluruh dunia, tanpa diapa-apakan bisa normal lagi. Kalau bukan karena kekebalan tubuh, lalu apa lagi?” ujar Prof. Dr. dr. Santoso Cornain, SpPD, KAI, DSC, guru besar ahli imunopatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kepada Tempo di sela acara seminar kanker di MRCCC RS Siloam baru-baru ini.

Cornain juga mencontohkan beberapa kasus prakanker dan kanker kulit (melanoma) yang juga bisa kembali pulih tanpa dilakukan tindakan. Para ahli menduga fenomena ini terjadi karena kekebalan tubuh yang baik. Dia mengakui cara pengobatan ini masih diperjuangkan dalam pengobatan.

Demikian juga di Indonesia. Sudah ada beberapa dokter yang menerapkan terapi ini. Caranya dengan beberapa jenis obat dan suntikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Cornain juga mengatakan terapi ini perlu untuk meningkatkan kekebalan tubuh. “Pada tumor, stadium dini kekebalan masih kuat. Jika sudah kena stadium lanjut, kekebalan juga menurun,” ujarnya.

Oleh karena itu, pasien perlu meningkatkan asupan protein untuk menghasilkan leukosit (sel darah putih). Leukosit berfungsi sebagai bagian dari kekebalan untuk mendeteksi tumor atau kanker. Selain darah putih, ada kelenjar betah bening. Menurut Cornain, mereka bisa direkayasa untuk menjadi pembunuh sel tumor atau kanker

Hal ini bisa dilakukan dengan tablet penambah daya tahan tubuh, obat antivirus (ada efek sampingnya juga), suntik, dan makan makanan yang mengandung banyak protein. Makanan dan tablet ini disebut sebagai imunomodulator atau penguat sistem kekebalan tubuh.(TEMPO Interaktif)

Transfer Factor (TF) adalah Jawaban alam untuk masalah ini. Sebagai imunomodulator TF dapat meningkatkan daya immune kita sampai dengan 437 %.

Willian Hennen, Ph.D (Biochemist, peneliti & pencipta obat-obatan. Pemilik lebih dari 30 jenis obat-obatan dan supplement) menulis bahwa Penyakit Terjadi Karena Lemahnya Sistem Imum. Jadi apa saya yang dapat menguatkan sistem imum (daya ketahanan) secara langsung akan mencegah dan melawan penyakit.

Tanpa sistem imun, kita tidak bisa bertahan…

Dr Chen Jau Fei menulis bahwa Perawatan terbaik adalah menjaga sistem imum. Banyak orang yang tidak tahu bahwa obat sebenarnya membunuh simpton penyakit (rasa sakit) tetapi bukan akar dari penyakit itu sendiri. Akar penyakit akan terus berkelanjutan dalam tubuh secara rahasia karena simpton telah di hapuskan. Kita sudah merasa sembuh padahal sebenarnya kita semakin parah. Jadi Obat “menyembunyikan” penyakit.

Sistem Imum ibaratnya pasukan tempur dalam tubuh. Sistem imum adalah sebuah sistem pertahanan tubuh yang terdiri dari triliunan sel, yang beratnya kurang lebih 1 kg. Natural Killer sel menyerang sel kanker, radikal bebas, virus, bakteri, jamur, sel-sel rusak, racun dan sebagainya. Natural killer Sel juga ikut mati setelah berperang. Oleh karena itu kebutuhan untuk terus Menambah Natural Killer Sel Sangat Penting.

Ada 3 hal mendasar fungsi dari sistem imum:
1. Kemampuan mengenal bentuk musuh seperti virus, bakteri, parasit, jamur, sel kanker dan sebagainya.
2. Secara Spesifik Memberikan Reaksi Pada Infeksi Patagen
3. Sistem Imum Memiliki Memori Terhadap Serangan Pertama dan secara cepat memberikan reaksi pada serangan berikutnya

Transfer factor Menjadikan Sistem Imum Anda Menjadi BIJAK dan CERDAS melihat musuh, virus, bakteri, kuman, sel kanker.